Tantangan Besar di Ranah Kedokteran Gigi

RSGM NEWS – Diakui atau tidak, tantangan dunia kedokteran gigi makin hari makin banyak. Terlebih, berdasarkan riset, jumlah dokter gigi di Indonesia masih belum bisa mengimbangi jumlah penduduk yang ada. Khususnya, dilihat dari perspektif pemerataan.

Apa sebabnya? Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNAIR Prof. RM. Coen Pramono D, drg., SU., SpBM (K)., FICS menyatakan, diduga kuat, kurangnya pemerataan dokter gigi diakibatkan oleh keengganan dokter gigi yang baru lulus untuk mengabdi di pelosok. Baru lulus, mereka langsung buka praktek di kota. Tak ayal, terdapat sejumlah daerah yang sejak awal dibentuk, tidak pernah memiliki dokter gigi yang praktek di sana. “Perlu regulasi yang jelas dan tegas. Misalnya, dengan program Wajib Kerja Sarjana,” urai dia.

Kebijakan atau regulasi itu mesti dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Jadi, mereka yang baru lulus, diharuskan buka praktek di daerah-daerah terjauh dulu. Sebagian kalangan menganggap langkah ini melanggar HAM. Namun bila dirunut, bukankah membiarkan kawasan-kawasan terluar tidak memiliki dokter gigi adalah pelanggaran HAM yang juga lebih berat?

Ketidakmerataan juga berimbas pada persoalan lain yang tak kalah berbahaya. Misalnya, dengan disertifikasinya pihak-pihak yang tidak pernah mengenyam pendidikan kedokteran gigi, untuk melakukan perawatan gigi secara detail. Padahal, mereka yang menangani keselamatan jiwa pasien, harus sudah pernah menimba ilmu kedokteran.

Bila memang program Wajib Kerja Sarjana diterapkan, pemerintah mesti pula menyiapkan gaji untuk mereka. Mungkin saja, ini yang membuat pemerintah perlu berpikir ulang. Meski sejatinya, inilah tantangannya.

Fundamental

Harus digarisbawahi, problem kesehatan gigi sifatnya fundamental atau penting. Infeksi pada gigi, bisa menyebabkan penyakit-penyakit di organ dalam. Misalnya, jantung, saraf, ginjal, dan lain sebagainya. Ada korelasi antara saraf gigi dan bagian-bagian penting dalam tubuh tersebut. “Contohnya, orang kalau mau operasi jantung, pasang klep, paling tidak seminggu sebelumnya, harus sudah dipastikan tidak ada gigi yang busuk atau terinfeksi. Kalau itu dilanggar, akan memberi efek jelek dan fatal bagi jantung,” ungkap dia.

UNAIR sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi memiliki peran sentral dalam mencetak para dokter gigi yang berkualitas. FKG yang berdiri sejak 1928 dan tergolong fakultas kedokteran gigi tertua di Indonesia, bertanggungjawab untuk memberi sumbangsih buat masyarakat. Terlebih, fakultas ini sudah memiliki Rumah Sakit Gigi dan Mulut yang memiliki fasilitas lengkap dan modern.

Yang menarik, FKG UNAIR memunyai hubungan erat dengan fakultas kedokteran. Jadi, dasar-dasar ilmu kedokteran yang berkaitan erat dengan kesehatan gigi pun diberikan pada para calon dokter sejak awal mereka mengenyam pendidikan. Sinergitas ini yang makin menguatkan kampus Airlangga. (*)

Editor: Nuri Hermawan

Hits 624

Terpopuler